Dipertemukan dengan Ketulusan

Sore ini….

“Ibu jauh? Mari ikut saya” sapa seorang ibu padaku saat aku berjalan menyusuri gang menuju rumah. Ibu bermotor matic itu dengan baik hati menawariku untuk berboncengan dengannya. Aku yang saat itu menenteng helm dengan refleks menjawab “tidak bu, saya dekat”. Selintas kami pun bertatapan. “Terima kasih bu” lanjutku. Dan ibu bermotor matic itu pun melaju kembali, perlahan menjauh, hingga rupanya pun tak terlihat lagi.
Dalam benakku, ‘baru kali ini ada orang yg belum ku kenal tapi dgn baik hati menawarkan tumpangan tanpa diminta’.
Dan aku pun berharap – Semoga masih banyak ketulusan-ketulusan lain di dunia sekitar ku ini. Pada Mu Sang Pemilik Alam Raya, ku ucapkan Terima Kasih … 😇

Advertisements

Kisah Asmara, Jawara Tani dari Cimande

Pak H. Agus Asmara dan P4S Antanan

 

Sejak kecil, pria dengan sorot mata tajam dan berperawakan bak jawara ini bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Ia bermimpi dapat menggelar konser ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, layaknya penyanyi tersohor, Iwan Fals. Pria ini bernama lengkap H. Moh. Agus Asmara, putra kelahiran desa Cimande, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor, 41 tahun silam.

Tahun 1991, Agus Asmara melanjutkan pendidikannya ke salah satu universitas di Bandung. Saat itulah, ia mulai serius menggeluti kegemarannya dalam dunia musik, diantaranya dengan mengoleksi berbagai alat musik. Namun, kegemarannya itu akhirnya diketahui ayahnya, H. Karyadi seorang ahli pengobatan patah tulang di Cimande. Mengetahui hal itu, sang Ayah tidak merestui, lalu menghentikan biaya kuliah untuknya. Sehingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya.

Secarik kertas bertuliskan “seandainya kamu tidak mendapatkan apa yang kamu cintai, maka cintailah apa yang kamu dapatkan” telah membuat Agus Asmara dapat sejenak melupakan mimpinya menjadi seorang penyanyi. Ia pun mencoba mencari dunia lain yang dapat digelutinya. Setelah masa perenungan, keyakinan itu pun datang, tahun 1992 ia memutuskan untuk mulai belajar bertani. Pertama kali, ia belajar membudidayakan mentimun di lahan seluas 1.000 m2. Mentimun yang diproduksi, ia jual sendiri ke Pasar Anyar, salah satu pasar sayuran di Bogor. Pendapatan dari menjual mentimun, Ia gunakan untuk mengkredit sebuah mobil untuk keperluan usaha taninya.

Keputusan Agus Asmara untuk mulai belajar bertani, mendapat respon yang baik dan dukungan dari sang Ayah. Sang ayah pun memberikan peluang kerja sama kepadanya. Ia mendapatkan tawaran untuk menjadi pemasok beras yang akan dikonsumsi pasien sang Ayah. Tawaran itu pun ia terima. Restu dari sang Ayah membuatnya semakin yakin untuk menggeluti dunia pertanian.

Hingga pada tahun 1996, Agus Asmara bergabung ke kelompok Tani Antanan I. Salah satu kelompok tani berprestasi di Bogor yang telah membentuk P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya) dengan komoditi unggulan Salak Sle-Bor. Di kelompok tersebut, saat ini Ia didaulat menjadi Ketua kelompok tani. Sedangkan di P4S Antanan, Ia menjadi salah satu anggota Inti.

Setelah bergabung dengan P4S Antanan, Agus Asmara fokus pada usaha tani dengan konsep Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System). Ia mulai membekali dirinya dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan petanian terpadu. Lebih dari itu, Ia pun menerapkannya pada usaha tani yang dijalankannya. Salah satu karya terbesarnya bersama tim P4S Antanan yaitu Villa Salak Pancawati, Bogor yang dibangun pada tahun 2003. Suatu kawasan pertanian dengan konsep Agroedutourism, kesatuan dari bidang pertanian, pendidikan, dan wisata. Sejak tahun 2003 sampai 2006, Ia menjadi General Manager dalam pengelolaan Kawasan tersebut.

Mulai tahun 1997 sampai 2011, Agus Asmara juga sering mendapatkan tawaran menjadi Instruktur dengan materi-materi yang berkaitan dengan Pertanian Terpadu. Tidak hanya menjadi Instruktur di P4S Antanan Bogor, tetapi juga di daerah-daerah lain di Indonesia diantaranya, Padang, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua Barat telah dijelajahinya. Pengalaman ini, membuatnya yakin bahwa mimpinya kini telah menjadi nyata.

“Dengan menjadi Petani, mimpi saya telah terwujud. Menjadi seorang penyanyi, namun bukan dengan lagu yang biasa seperti yang dibawakan oleh Iwan Fals.” Ucap Agus Asmara. “Saya menyanyikan materi-materi pertanian kepada Petani atau calon Petani di berbagai daerah di Indonesia. Ya itulah Konser saya” dengan penuh semangat ia melanjutkan ucapannya.

-Tamat-

Tulisan Ini menjadi salah satu Tulisan Terbaik pada Diklat Penulisan Ilmiah Populer bagi Penyuluh Pertanian Tahun 2014, yang diadakan oleh Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP), Kementerian Pertanian, di Ciawi Bogor pada 26 Januari – 1 Februari 2014.

Semua Berawal dari Kisah Asmara …

Sebelumnya saya tak pernah membayangkan, saya akan jatuh cinta pada dunia ini, Dunia Tulis Menulis. Semua berawal dari Kisah Asmara itu. Berawal dari ketertarikan saya dengan seorang Jawara Tani di desa Cimande, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor yang memiliki nama akhir -Asmara-.
Kunjungan Lapang saat Diklat Penulisan Ilmiah Populer 2014 ke P4S Antanan, Cimande, Bogor

Kunjungan Lapang saat Diklat Penulisan Ilmiah Populer 2014 ke P4S Antanan, Cimande, Bogor

 Dari hasil kunjungan lapang, Diklat Penulisan Ilmiah Populer Angkatan I dan II Tahun 2014, yang diadakan oleh PPMKP Ciawi itu saya mencoba membuat tulisan Feature untuk pertama kalinya. Diawal penulisan saya langsung berhadapan dengan si “mental block“, bertanya-tanya dalam hati ’emang kamu bisa menulis???’…. Hemmmm…… Namun, berbekal target dari Tim Fasilitator, bahwa dalam sehari setiap peserta harus membuat satu tulisan, mau tak mau saya mencoba membuatnya. Dalam kondisi “under pressure“, saya membuat tulisan itu… hehe
Pertanyaan selanjutnya, dari hasil kunjungan itu sisi “human interest” apa yang bisa saya angkat??? kalau tentang teknis di bidang pertanian, jujur saya belum bisa berbagi karena belum 100% memahaminya. Lalu saya cek lagi, data dan informasi apa yang saya kumpulkan secara lebih detail dari kunjungan itu, dan ternyata masih ada seberkas ingatan tentang secuil kisah hidup pa Asmara, yang menurut saya menarik. Selain berbincang-bincang santai, pa Asmara juga sempat memberikan CV nya saat kunjungan tersebut, ya lengkap sudah. “Mungkin ini cukuplah untuk membuat satu tulisan, minimal satu halaman”, pikir saya saat bingung-bingungnya mau menulis apa. Dengan teknik Copying Mechanisme (but not plagiarisme), saya mencoba membuat tulisan tentang pa Asmara. 
Tapi tak disangka, setelah memulai membuat tulisannya, selalu saja ada yang ingin diceritakan, dan rasanya tak cukup 1 halaman. Dilengkapi sedikit gambar untuk mempermanis tulisan, akhirnya jadi juga tulisan Feature pertama saya. Tulisan yang dibuat dalam 2 halaman kertas A4, Tulisan Arial 12, dengan spasi 1,5. Kisah pa Asmara inilah yang menjadi awal kisah Asmara saya dengan Dunia Tulis Menulis …… Semoga saya bisa “Staying in Love” dengan Dunia ini, selamanya… sepanjang hidup saya ….., sehingga saya bisa terus berbagi dengan lebih banyak orang, bahkan yang belum pernah saya temui 🙂
 Sebuah perjalanan, diawali sebuah langkah…… dan  blog ini -adahatidisini.wordpress.com- adalah langkah ku untuk berbagi semua tentang perjalanan hidupku….. SEMOGA BERMANFAAT ^^